Minggu, 10 Mei 2015

Komunikasi

Teori Organisasi Umum 2
“Komunikasi”



Nama Kelompok :
·        Audirza Meitasari                    (11113489)
·        Dela Aprilia Wibawa                (12113142)
·        Diaz Rahmat Santiago              (12113412)
·        Hardiansah                              (13113913)
·        M. Ahsan Fuady                      (15113819)
·        Rizky Eksa                              (17113967)
·        Sayyid Mahdi                          (18113326)

Kelas          : 2KA20




UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA 2015/2016


 Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telat memeberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Komunikasi”. Dari makalah ini semoga dapat memberikan informasi kepada kita semua betapa pentingnya pemimpin dalam sebuah organisasi.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah yang telah kami buat ini
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan tanggung jawab serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin

1.1              Latar Belakang

Tanpa disadari semua manusia dimuka bumi ini melakukan komunikasi, baik komunikasi dengan orang lain atau pun diri sendiri. Dari kita berbicara atau gerah tubuh kita merupakan cara berkomukasi juga. Komunikasi juga dilakukan dengan verbal ataupun dengan lisan.
Dengan kita berkomukasi kita dapat menyampaikan dan menerima informasi yang disampaikan melalui proses komunikasi. Karena komunikasi berlangsung dari manusia dilahirkan sampai akhir hayatnya maka dari itu kita perlu tahu apa itu kemonukasi.
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.

1.2              Rumusan Masalah

1.                  Pengertian komunikasi dan arti penting komunikasi
2.                  Komunikasi menurut para ahli(tokoh)
3.                  Jenis-jenis komunikasi
4.                  Proses komunikasi
5.                  Komunikasi yang efektif
6.                  Implikasi manajerial

1.3              Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk berbagi informasi kepada kita semua tentang apa itu “Komunikasi”,dan memiliki pengertian yang lebih baik mengenai apa itu komunikasi dan bagaimana cara  berkomunikasi dengan baik dan efektif.

BAB 2 PEMBAHASAN


2.1              Pengertian Komunikasi dan Arti Penting Komunikasi

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis.Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan dapat berhasil apabila sekiranya timbul saling pengertian, yaitu jika kedua belah pihak, si pengirim dan penerima informasi dapat memahaminya. Hal ini tidak  berarti  bahwa kedua belah pihak harus menyetujui sesuatu gagasan tersebut, tetapi yang penting adalah kedua belah pihak sama-sama memahami gagasan tersebut. Dalam keadaan seperti inilah baru dapat dikatakan komunikasi telah berhasil baik (komunikatif).

2.2              Komunikasi Menurut Para Ahli (Tokoh)

Masing-masing para ahli mengeluarkan definisi sendiri-sendiri tentang komunikasi. Akan tetapi definisi para ahli terdapat kesamaan tentang apa itu komunikasi yaitu “penyampaian dan penerimaan informasi”. Komunikasi menurut para ahli:

1.      Himstreet & Baty
Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyak-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.

2.      Laswell
Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakn apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.

3.      Car I.Hovland
Komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulan biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.

4.      William Albig
Komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.

5.       A. Winnet
Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu maksud dari sumber kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri aktivitas, rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan peralihan maksud tersebut.

6.      Everett M. Rogers
Seorang pakar sosiologi Pedesaan Amerika membuat definisi “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba saling pengertian”.

7.      Raymond Ross
Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.

  1. Karfried Knapp
Komunikasi merupakan interaksi antar pribadi yang menggunakan sistem simbol linguistik, seperti sistem simbol verbal (kata-kata) dan non verbal. Sistem ini dapat disosialisasikan secara langsung / tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral, dan visual).

2.3              Jenis-jenis Komunikasi

1         Komunikasi Intrapribadi, yaitu komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) adalah komunikasi dengan diri sendiri, baik kita sadari atau tidak. Misalnya berpikir.

2         Komunikasi Antarpribadi, yaitu komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan respon verbal maupun nonverbal berlangsung secara langsung.

3         Komunikasi Kelompok (Kecil), yaitu komunikasi kelompok merujuk pada komunikasi yang dilakukan sekelompok kecil orang (small-group communication).

4         Komunikasi Publik, yaitu komunikasi publik adalah komunikasi antara seorang pembicara dengan sejumlah orang (khalayak), yang tidak bisa dikenali satu persatu. Meliputi ceramah, pidato, kuliah, tabligh akbar, dan lain-lain. Ciri-ciri komunikasi publik adalah berlangsung lebih formal.

5         Komunikasi Organisasi, yaitu komunikasi organisasi (organizational communication) terjadi dalam suatu organisasi, bersifat formal dan informal, dan berlangsung dalam jaringan yang lebih besar dari komunikasi kelompok.

6         Komunikasi Massa, yaitu komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa cetak maupun elektronik yang dikelola sebuah lembaga atau orang yang dilembagakan yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar, anonim, dan heterogen. Pesan- pesannya bersifat umum, disampaikan secara serentak, cepat dan selintas. 

2.4              Proses Komunikasi

Para ahli bahwa komunikasi yang efektif adalah pemahaman bersama antara orang yang menyampaikan pesan dan orang yang menerima pesan. Kata komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang artinya “bersama”. Komunikator atau pengirim pesan, berusaha mencari “kebersamaan” dengan si penerima pesan. Karena itu, dapat didefinisikan komunikasi (communication) sebagai transisi informasi dan pemahaman melalui symbol-simbol bersama dari satu orang atau kelompok ke pihak lainnya. Simbol-simbol bersama yang digunakan dapat berwujud verbal ataupun nonverbal. Dalam konteks struktur organisasi, informasi dapat bergerak ke atas ataupun ke bawah (vertikal), bergerak melintang (horizontal), atau bergerak ke bawah dan melintang secara bersamaan (diagonal).
Model proses komunikasi kontemporer yang paling banyak digunakan dikembangkan oleh Shannon, Weaver, dan Schramm. Para peneliti ini berusaha mendeskripsikan proses umum komunikasi yang dapat digunakan untuk setiap situasi. Elemen-elemen dasar yang membentuk komunikasi mencangkup komunikator, pengkodean, pesan, media perantara, pengurai, penerima pesan, umpan balik dan suara derau.
Secara singkat, beberapa macam proses komunikasi sebagai berikut :
1.      Lingkup organisasi. Menurut lingkupnya dalam organisasi, komunikasi dapat dibedakan antara komunikasi intern dan komunikasi ekstern.
·         Komunikasi intern adalah komunikasi yang ada atau berlangsung didalam sebuah organisasi.
·         Komunikasi ekstern adalah komunikasi yang terjadi atau berlangsung antara suatu organisasi dengan pihak luar atau dengan bagian-bagian organisasi lain.

2.      Arah. Dari sudut arahnya,komunikasi dapat dibedakan antara komunikasi searah dan komunikasi dan komunikasi dua arah.
·         Komunikasi searah adalah komunikasi yang ditandai oleh adanya satu pihak yang aktif, yaitu penyampaian informasi; sedangkan pihak lainnya bersifat pasif dan menerima. Biasanya komunikasi atasan kepada bawahan, seperti instruksi yang harus dikerjakan dan semacamnya adalah komuniasi searah.
·         Komunukasi dua arah adalah komunikasi yang ditandai oleh peran aktif kedua pihak yang sama-sama sebagai pemberi dan penerima informasi. Pertukaran pikiran dan pendapat dalam rapat atau diskusi adalah contoh komunikasi dua arah

3.      Tingkatan Organisasi. Di dalam struktur organisasi dikenal adanya tingkat-tingkat, dan karenanya juga akan ikut menentukan corak komunikasi yang berlangsung didalamnya. Berdasarkan tingkatan organisasi, komunikasi dapat dibedakan menjadi komunikasi vertical dan komunikasi horizontal.
·         Komunikasi vertical adalah komunikasi yang berlangsung antara bawahan dengan atasan didalam hirarki organisasi. Komunikasi vertical dapat berupa pemberian usulan, laporan, masukan, dan memohon petunjuk.
·         Komunikasi horizontal adalah komunikasi yang berlangsung di antara para pejabat yang sederajat. Komunikasi horizontal dapat berupa perintah, arahan, dan petunjuk,

4.      Sifat Formal dan Informal. Dari segi sifatnya, komunikasi dalam organisasi dapat berupa komunikasi formal dan informal.
·         Komunikasi formal adalah komunikasi yang melalui jalur atau saluran organisasi dan berkenaan dengan urusan-urusan organisasi yang resmi.
·         Komunikasi informal adalah komunikasi yang berlangsung tidak melalui saluran organisasi yang resmi atau menyangkut urusan-urusan diluar organisasi.

5.      Pola Komunikasi Kelompok. Beberapa pandangan para ahli bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara pola komunikasi dengan perilaku dalam kelompok.
·         Media. Dari segi media atau alat yang digunakan untuk mentransfer pesan, dikenal dengan adanya komunikasi visual, audial, audio-visual. Komunikasi visual adalah komunikasi yang menggunakan alat tertentu untuk mengirim pesan yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan(mata). Komunikasi audial adalah komunikasi yang menggunakan alat tertentu yang pesannya ditangkap oleh pendengaran(telinga).Komunikasi audial contohnya adalah: radio, telephone, kuliah dll. Dan komunikasi audio-visual adalah komunikasi yang menggunakan alat tertentu yang pesannya ditangkap oleh penglihatan dan pendengaran secara bersamaan. Contoh komunikasi audio-visual termasuk didalamnya : video,film, lase disc,dsb.
Cara penyampaiannya: verbal – nonverbal. Dari segi cara  menyampaikan pesan dapat dibedakan antara komunikasi verbal dan non-verbal.
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang pesan-pesannya disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orang, baik melalui media tulis maupun lisan. Penyiar televisI dan radio atau penulis brita dikoran yang pesannya dapat dengan mudah kita tangkap makna pesannya disebut melakukan komunikasi verbal pada hakekatnya lebih mudah dimengerti.
Komunikasi non-verbal disebut juga dengan komunikasi tanpa kata, adalah komunikasi yang pesan-pesannya disampaikan melalui symbol-simbol, isyarat, atau perilaku tertentu yang bukan dengan kata-kata. Biasanya komunikasi seperti ini dipahami oleh kalangan yang terbatas, tergantung dari pengalaman, pendidikan, latar belakang budaya dan adat istiadat, dsb. Misalnya, atasan yang marah pada bawahan karena tidak puas dengan hasil kerjanya menulis disposisi dengan tinta merah, orang yang berdiam diri diluar kebiasaan untuk mengkomunikasikan kesedihan, dsb adalah bentuk-bentuk komunikasi non-verbal. Karenanya, bentuk komunikasi ini pada tahap-tahap awalnya sukar dimengerti.

2.5              Komunikasi  yang Efektif

Pengertian Komunikasi Efektif Menurut Para Ahli yang ambil dari berbagai sumber:
Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Oleh karena itu, dalam bahasa asing orang menyebutnya “the communication is in tune”, yaitu kedua belah pihak yang berkomunikasi sama-sama mengerti apa pesan yang disampaikan.
Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tindakan.
Syarat-syarat untuk berkomunikasi secara efektif adalah antara lain :
1.      Menciptakan suasana yang menguntungkan.
2.      Menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti.
3.      Pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat di pihak komunikan.
4.      Pesan dapat menggugah kepentingan dipihak komunikan yang dapat menguntungkannya.
5.      Pesan dapat menumbuhkan sesuatu penghargaan atau reward di pihak komunikan.
Prinsip Dasar Komunikasi Efektif

1.      Respect (Respek) adalah Perasaan Positif atau penghormatan diri kepada lawan bicara.
2.      Empathy (Empati) adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang tengah dihadapi orang lain. Anda mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, sehingga komunikasi akan terjalin dengan baik sesuai dengan kondisi psikologis lawan bicara Anda.
3.      Audible (Dapat Didengar) Audible mengandung makna pesan yang harus dapat didengarkan dan dimengerti. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
·         Pertama, pesan harus mudah dipahami, menggunakan bahasa yang baik dan benar. Hindari bahasa yang tidak dipahami oleh lawan bicara.
·         Kedua, sampaikan yang penting. Sederhanakan pesan Anda. Langsung saja pada inti persoalan
·         Ketiga, gunakan bahasa tubuh Anda. Mimik wajah, kontak mata, gerakan tangan dan posisi badan bisa dengan mudah terbaca oleh lawan bicara Anda. Tunjukkan kesejatian Anda dengan mengoptimalkan bahasa tubuh dan pesan.
·         Keempat, gunakan ilustrasi atau contoh. Karena analogi sangat membantu dalam penyampaian pesan.
4.      Clarity (Jelas) adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan. Salah satu penyebab munculnya salah paham antara satu orang dengan yang lain adalah informasi yang tidak jelas yang mereka terima.
Humble (Rendah Hati) Sikap Rendah Hati bukan berarti Anda Rendah Diri, Rendah Hati memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara terlebih dahulu, dan Anda menjadi pendengar yang baik.

2.6              Implikasi Manajerial

Publicapos.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melakukan komunikasi buruk bahkan sering membuat pernyataan yang cukup kasar sehingga memunculkan konflik dengan DPRD DKI Jakarta.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Indonesia for Democracy and Justice (IDC), R Mubarrod kepada Publicapos.com, Minggu (15/3).

Menurut Mubarrod, gaya komunikasi politik Ahok kurang bagus dan rawan. Di Indonesia sendiri sejak dahulu terkenal dengan gaya santun, tapi gaya tersebut tidak terdapat pada Ahok. Bahkan Ahok terlihat menghiraukan adat komunikasi politik budaya Indonesia.

"Yang ditakutkan apabila menggunakan gaya seperti ini, maka akan berdampak buruk dan berimbas bagi daerah lain," tandasnya.

Mubarrod meminta Ahok harus mengubah cara komunikasinya karena bisa menimbulkan efek yang kurang bagus di tingkat masyarakat.

"Walaupun ada survei yang menilai masyarakat masih mempercayai Ahok, tetapi tidak dinafikan ada suara rakyat yang tidak menyukai Ahok dan gaya komunikasinya," paparnya.

Selain itu, ia mengkritik berbagai lembaga survei yang berupaya untuk menggiring opini bahwa Ahok masih dipercaya rakyat.(AHN).
 

3.1        Kesimpulan

Pada dasarnya komunikasi sangat diperlukan didalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aspek, baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam organisasi. Didalam kegiatan berorganisasi, komunikasi sangat diperlukan dengan tujuan agar sebuah system atau komunikasi yang ada bisa terjalin dengan sempurna dan lebih baik.

Komunikasi dirumuskan sebagai suatu proses penyampaian pesan atau informasi diantara beberapa orang. Karenanya komunikasi melibatkan seorang pengirim, pesan atau informasi saluran dan penerima pesan yang mungkin juga memberikan umpan balik atau feed back kepada pengirim untuk menyatakan bahwa pesan telah diterima.

Komunikasi sangat penting dalam kehidupan manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Dalam berkomunikasi seseorang harus memiliki dasar yang akan menjadi patokan seseorang tersebut dalam berkomunikasi. Dalam proses kita juga harus ingat bahwa terdapat banyak hambatan-hambatan dalam berkomunikasi.

Tujuan komunikasi adalah berhubungan dan mengajak dengan orang lain untuk mengerti apa yang kita sampaikan dalam mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan dalam bekerja sama dengan orang lain. Ada dua jenis komunikasi, yaitu verbal dan nonverbal, komunikasi verbal atau tertulis dan komunikasi nonverbal atau bahasa (gerak tubuh). Komunikasi dua arah terjadi bila pengiriman pesan dilakukan dan mendapatkan umpan balik. Seseorang dalam berkomunikasi pasti dapat merasakan timbal balik antara pemberi informasi serta penerima informasi sehingga terciptanya suatu hubungan yang mutualisme antara keduanya.

3.2 Saran

Dengan disusunnya makalah ini, maka pembaca maupun penulis dapat mengerti dan memahami arti pentingnya berkomunikasi didalam kehidupan sehari-hari khususnya komunikasi dalam organisasi.

Semoga makalah ini dapat diterima dan dimengerti serta berguna bagi pembaca maupun penulis, kami memohon maaf atas berbagai kekurangan yang ada dalam penulisan makalah ini, dengan demikian kami mengharapkan kritik dan saran atas tulisan kami agar bisa membangun dan memotivasi kami demi terciptanya suatu kesempurnaan.

  • Greenberg, Jerald, Managing Behavior in Organization, Prentice hall, New Jersey, 2005
§  John M Ivancevich, Perilaku dan Manajemen Organisasi jil 2. Erlangga: Jakarta, 2005
§  Komang Ardana, Ni wayan M, Anak Agung A.S, Perilaku Keorganisasian, Graha Ilmu, 2008
§  Ig. Wursanto, Dasar – dasar ilmu Organisasi, Andi, Yogyakarta, 2005
§  http://artikel.okeschool.com/artikel/komunikasi/883/definisi-komunikasi-menurut-para-ahli.html

Senin, 30 Maret 2015

Komunikasi (Verbal dan Non Verbal)



KOMUNIKASI VERBAL

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Deddy Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.


Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tatabahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti. Kalimat dalam bahasa Indonesia Yang berbunyi ”Di mana saya dapat menukar uang?” akan disusun dengan tatabahasa bahasa-bahasa yang lain sebagai berikut:

  • Inggris: Dimana dapat saya menukar beberapa uang? (Where can I change some money?).
  • Perancis: Di mana dapat saya menukar dari itu uang? (Ou puis-je change de l’argent?).
  • Jerman: Di mana dapat saya sesuatu uang menukar? (Wo kann ich etwasGeld wechseln?).
  • Spanyol: Di mana dapat menukar uang? (Donde puedo cambiar dinero?).

Tatabahasa meliputi tiga unsur: fonologi, sintaksis, dan semantik. Fonologi merupakan pengetahuan tentang bunyi-bunyi dalam bahasa. Sintaksis merupakan pengetahuan tentang cara pembentukan kalimat. Semantik merupakan pengetahuan tentang arti kata atau gabungan kata-kata. 


Menurut Larry L. Barker (dalam Deddy Mulyana,2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi. 

Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi. 
Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. 
Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita. 


Cansandra L. Book (1980), dalam Human Communication: Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:
  • Mengenal dunia di sekitar kita. Melalui bahasa kita mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu sampai pada kemajuan teknologi saat ini.
  • Berhubungan dengan orang lain. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita, dan atau mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang di sekitar kita.
  • Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita. Bahasa memungkinkan kita untuk lebih teratur, saling memahami mengenal diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan tujuan-tujuan kita.
Keterbatasan Bahasa:

Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek. 

Kata-kata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu: orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dan sebagainya. Tidak semua kata tersedia untuk merujuk pada objek. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi buka realitas itu sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksak.


Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat dikotomis, misalnya baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, dsb.


Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual.

Kata-kata bersifat ambigu, karena kata-kata merepresentasikan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda, yang menganut latar belakang sosial budaya yang berbeda pula. Kata berat, yang mempunyai makna yang nuansanya beraneka ragam*. Misalnya: tubuh orang itu berat; kepala saya berat; ujian itu berat; dosen itu memberikan sanksi yang berat kepada mahasiswanya yang nyontek.


Kata-kata mengandung bias budaya.

Bahasa terikat konteks budaya. Oleh karena di dunia ini terdapat berbagai kelompok manusia dengan budaya dan subbudaya yang berbeda, tidak mengherankan bila terdapat kata-kata yang (kebetulan) sama atau hampir sama tetapi dimaknai secara berbeda, atau kata-kata yang berbeda namun dimaknai secara sama. Konsekuensinya, dua orang yang berasal dari budaya yang berbeda boleh jadi mengalami kesalahpahaman ketiaka mereka menggunakan kata yang sama. Misalnya kata awak untuk orang Minang adalah saya atau kita, sedangkan dalam bahasa Melayu (di Palembang dan Malaysia) berarti kamu. 

Komunikasi sering dihubungkan dengan kata Latin communis yang artinya sama. Komunikasi hanya terjadi bila kita memiliki makna yang sama. Pada gilirannya, makna yang sama hanya terbentuk bila kita memiliki pengalaman yang sama. Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif disebut isomorfisme. Isomorfisme terjadi bila komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang sama, pendidikan yang sama, ideologi yang sama; pendeknya mempunyai sejumlah maksimal pengalaman yang sama. Pada kenyataannya tidak ada isomorfisme total.


Percampuranadukkan fakta, penafsiran, dan penilaian.

Dalam berbahasa kita sering mencampuradukkan fakta (uraian), penafsiran (dugaan), dan penilaian. Masalah ini berkaitan dengan dengan kekeliruan persepsi. Contoh: apa yang ada dalam pikiran kita ketika melihat seorang pria dewasa sedang membelah kayu pada hari kerja pukul 10.00 pagi? Kebanyakan dari kita akan menyebut orang itu sedang bekerja. Akan tetapi, jawaban sesungguhnya bergantung pada: Pertama, apa yang dimaksud bekerja? Kedua, apa pekerjaan tetap orang itu untuk mencari nafkah? .... Bila yang dimaksud bekerja adalah melakukan pekerjaan tetap untuk mencari nafkah, maka orang itu memang sedang bekerja. Akan tetapi, bila pekerjaan tetap orang itu adalah sebagai dosen, yang pekerjaannya adalah membaca, berbicara, menulis, maka membelah kayu bakar dapat kita anggap bersantai baginya, sebagai selingan di antara jam-jam kerjanya.


Ketika kita berkomunikasi, kita menterjemahkan gagasan kita ke dalam bentuk lambang (verbal atau nonverbal). Proses ini lazim disebut penyandian (encoding). Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik (lihat keterbatasan bahasa di atas), untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara, bagaimana mencocokkan kata dengan keadaan sebenarnya, bagaimana menghilangkan kebiasaan berbahasa yang menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman.

* Makna dapat pula digolongkan ke dalam makna denotatif dan konotatif. Makna denotatif adalah makna yang sebenarnya (faktual), seperti yang kita temukan dalam kamus dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang dengan bahasa dan kebudayaan yang sama. Makna konotatif adalah makna yang subyektif, mengandung penilaian tertentu atau emosional (lihat Onong Effendy, 1994, h. 12) 


KOMUNIKASI NONVERBAL

Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.


Klasifikasi pesan nonverbal.

Jalaludin Rakhmat (1994) mengelompokkan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut:

Pesan kinesik. Pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.


Pesan fasial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad. Leathers (1976) menyimpulkan penelitian-penelitian tentang wajah sebagai berikut: a. Wajah mengkomunikasikan penilaian dengan ekspresi senang dan taksenang, yang menunjukkan apakah komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk; b. Wajah mengkomunikasikan berminat atau tak berminat pada orang lain atau lingkungan; c. Wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam situasi situasi; d. Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri; dan wajah barangkali mengkomunikasikan adanya atau kurang pengertian.

Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna.


Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah: a. Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidak sukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif; b. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hati di depan anda, dan postur orang yang merendah; c. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur anda tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.

Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.
Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.
Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara berbeda. Pesan ini oleh Dedy Mulyana (2005) disebutnya sebagai parabahasa.
Pesan sentuhan dan bau-bauan. 


Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan dengan emosi tertentu dapat mengkomunikasikan: kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa perhatian.


Bau-bauan, terutama yang menyenangkan (wewangian) telah berabad-abad digunakan orang, juga untuk menyampaikan pesan –menandai wilayah mereka, mengidentifikasikan keadaan emosional, pencitraan, dan menarik lawan jenis.


Fungsi pesan nonverbal.


Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:

Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala.
Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukkan kepala.
Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya anda ’memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata ”Hebat, kau memang hebat.”
Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.
Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul meja.


Sementara itu, Dale G. Leathers (1976) dalam Nonverbal Communication Systems, menyebutkan enam alasan mengapa pesan verbal sangat signifikan. Yaitu:


a. Factor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal. Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatamuka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan nonverbal. Pada gilirannya orang lainpun lebih banya ’membaca’ pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk nonverbal.

b. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan noverbal ketimbang pesan verbal. 


c. Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan. Pesan nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar.

d. Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memeperjelas maksud dan makna pesan. Diatas telah kita paparkan pesan verbal mempunyai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi.

e. Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal. Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi, repetisi, ambiguity, dan abtraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal.


f. Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan dan emosi secara tidak langsung. Sugesti ini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implisit (tersirat).

Daftar Pustaka:

1. Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.
2. Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.
3. Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Jumat, 09 Januari 2015

Kasih Sayang Orang Tua


Dalam Al-Quran maupun Hadits, orang tua memiliki kewajiban untuk memberi nafkah dan pendidikan kepada anaknya, tidak ada kewajiban atau perintah yang dikhususkan untuk mencintai, menyayangi dan menghormati anak. Mengapa demikian? Sebab secara reflek dan alami, cinta dan kasih sayang orang tua akan datang dengan sendirinya tanpa diperintahkan, mereka memberikan rasa cinta kasih kepada anaknya tanpa mengharapkan balasan.
Seorang Ibu yang mengandung anaknya sembilan bulan bahkan lebih lama lagi, ia tidak akan pernah mengeluh, ia menerimanya dengan rela dan sukacita, walaupun memberikan dampak kepada bentuk tubuh yang menjadikannya tidak secantik seperti semula. Betapa susah payahnya ibu yang sedang hamil. Ia lemah lunglai tiada daya. Bahkan nyawanya pun diserahkannya disaat dia melahirkan.
Andaikan kita menghitung dan menilai, berapa banyakkah susu ibu yang telah kita isap dan berapakah harganya? Kita tidak akan bisa menghitung dan tidak bisa pula dibeli dengan materi. Walaupun demikian, seorang Ibu tidak akan pernah meminta kembali susu yang pernah diisap oleh anaknya. Kelak jika anaknya sudah dewasa, dengan segala sukacita Ibu akan merasa senang jika anaknya senang, dan juga sebaliknya Ibu akan merasakan lebih susah jika anaknya susah.
Sang Ayah pun demikian, walaupun tidak seperti Ibu yang mengandung anaknya, namun ayah juga akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan anaknya. Ia akan merasa senang jika anaknya menjadi orang kaya dan sukses walaupun dirinya miskin. Seorang ayah akan bangga bila anaknya menjadi seorang sarjana walau dia tidak pernah mengenyam pendidikan dibangku sekolah. Seorang ayah akan bangga bila anaknya menjadi pejabat walaupun dia hanya menjadi rakyat. Siang dan malam dilalui ayah untuk mencari nafkah demi anak dan istri. Tidak peduli dengan panas, hujan ataupun rasa lelah yang dialaminya demi menghidupi keluarga tercinta. Namun demikian ayah akan lebih merasa bangga jika anaknya menjadi anak yang saleh.
Kasih sayang orang tua tidak terbatas oleh waktu. Sebaliknya, kasih sayang seorang anak tidak akan pernah bisa menyamai besarnya kasih sayang mereka kepada anak-anaknya. Orang tua akan merasa cukup dihargai jika anaknya memiliki budi pekerti, tidak perlu balasan berupa materi. Tetapi, secara alami orang tua ingin dihargai dan dihormati oleh anaknya, semua itu bergantung kepada perilaku kita sekarang kepada orang tua kita.
Rasa cinta, kasih sayang, dan hormat kepada orang tua harus ditanamkan sejak dini. Mengajarkan dan mendidik anak dalam masalah akhlak merupakan hal yang tidak mudah. Memerlukan persiapan yang matang untuk melakukan semua itu, terlebih perkembangan zaman saat ini tidak kondusif dengan anak-anak. Nilai, etika dan moral kini semakin terasa tidak bermakna.
Agar kelak seorang anak memiliki akhlak yang baik, baik dalam perbuatan maupun perkataan, Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
”Ajarkanlah kepada anak-anakmu tiga masalah; mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan membaca Al-Quran."( Riwayat Thabrani)
Belajar mencintai Rasulullah, yaitu dengan menceritakan kisah-kisa Nabi Muhammad, bagaimana beliau sangat mencintai kakek dan paman yang mengasuhnya, karena beliau telah ditinggalkan oleh ayahnya saat didalam kandungan dan ditinggal ibunya saat beliau berusia enam tahun. Dari sini anak-anak dapat membayangkan betapa Rasul akan lebih mencintai orang tuanya sendiri.
Mencintai keluarga Rasulullah saw. sangat berkaitan dengan mencintai beliau, karena keluarga beliau ialah kerabat yang ada hubungan nasab dengan beliau, sehingga mencintai keluarga merupakan manifestasi mencintai beliau sendiri.
Terakhir membaca Al-Quran, karena dengan membaca Al-Quran seorang anak akan terlatih kefasihan lidahnya, bahasanya, dan yang paling penting belajar mencintai kitab sucinya sendiri sehingga kelak tidak akan merasa asing, karena kitab sucinya akan menjadi pedoman hidup manusia sampai akhir masa.

Penyakit Diri


Manusia, tidak akan pernah luput dari yang namanya penyakit. Namun tidak semua manusia meyadari bahwa dirinya sedang dilanda penyakit, atau bahkan menyadari dirinya sakit tapi senang dengan penyakitnya itu, sengaja memelihara penyakit hanya untuk sekadar menyembunyikan diri dari tanggung jawab manusia sehat.
Rasulullah saw. telah menggolongkan penyakit rohani tersebut kedalam delapan golongan. Penyakit tersebut dapat mengganggu ketenangan dan dapat berakibat buruk dalam kehidupan manusia. Kedelapat penyakit tersebut ialah:
1. Sikap bimbang dan ragu yang selalu mencekam diri, selalu merasa terancam bahaya padahal bahaya tersebut tidak ada. Selalu merasa cemas dan khawatir dengan semua tindakan yang akan dilakukan, takut jika tidakan tersebut akan mengalami kegagalan atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
2.  Bermuram durja dan berduka cita akibat terkena musibah. Yang dimaksud disini ialah kesedihan yang berlarut-larut dan berkepanjangan. Manusia seharusnya berlapang dada dalam menghadapi segala rintangan serta menerima hidup sebagai kenyataan yang dihadapi.
3. Lemah atau tidak mempunyai gairah hidup, tidak memiliki inisiatif dan kreatif, tidak dapat melewati hambatan-hambatan yang kecil. Orang seperti ini akan menyusahkan dan menjadi beban bagi orang lainnya.
4. Malas, merupakan penyakit yang paling sering menggerogoti diri manusia. Orang malas akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
5. Sikap pengecut, tidak berani mengambil suatu tindakan karena takut akan resiko yang kemudian timbul. Manusia seperti ini tidak memiliki harga diri dan naluri membela diri.
6. Kikir, berarti menahan sesuatu yang berlebih bagi diri sendiri, yang seharusnya diberikan kepada yang lebih membutuhkan daripada dirinya. Kekikiran ini menyangkut harta, tenaga, maupun kepandaian.
7. Lilitan hutang akibat hidup yang tidak seimbang. Orang ini cenderung berperilaku konsumtif sehingga tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika tidak dapat melunasi hutang-hutang tersebut. Yang menyedihkan dari penyakit ini ialah, orang yang hidup dalam lilitan hutang malah justru merasa senang dan tenang hidup diatas timbunan harta orang lain.

8. Paksaan atau intimidasi orang, baik secara terang-terangan atau tersembunyi. Dirinya dikuasai oleh orang lain, tidak tergerak untuk mewujudkan hasrat dan minat dirinya. Hidupnya selalu bergantung pada keinginan penguasanya, dan taku jika suatu saat nanti akan ditinggalkan oleh penguasa tersebut.

Ciri-Ciri Seorang Muslim


“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka bekas sujud.”(Q.S Al-Fath: 29)
Berdasarkan terjemahan Q.S Al-Fath ayat 29 diatas, ciri-ciri seorang muslim yang mengikuti jejak Rasulullah itu antara lain:
1. Memiliki akidah yang kuat yang dibuktikan dengan perbuatan, bersikap teguh dalam menentukan halal dan haram, benar atau salah. Seorang muslim harus menampakkan akidah dan keyakinan kepada siapapun, harus merasa bangga sebagai seorang muslim, jangan sebaliknya, merasa malu memperlihatkan identitas diri sebagai seorang muslim.
2. Memelihara kasih sayang antar sesama muslim, dalam arti saling menolong, saling membantu dalam hal kebaikan, baik berupa materi maupun ucapan atau perbuatan.
3. Senantiasa rukuk dan sujud. Maksudnya ialah senantiasa mendirikan sholat lima waktu sehari semalam. Sholat yang benar-benar memenuhi syarat dan rukunnya akan dapat mencegah kita melakukan perbuatan keji dan mungkar.
4. Senantiasa mengharapkan keutamaan dan rida Allah swt. Disetiap melakukan amalan atau ibadah sebaiknya seorang muslim memelihara niat dengan mengharapkan keutamaan dan keridaan Allah swt. oleh sebab itu seorang muslim harus mengerjakannya dengan didasari keikhlasan.
5. Terlihat dari bekas sujudnya. Maksudnya ialah bekas sujud yang didapatkan oleh orang-orang yang benar-benar melaksanakan sujud kepada Allah swt. Orang yang melaksanakan sholat lima waktu yang disertai dengan sunah-sunahnya tentu akan terlihat berbeda dengan orang-orang yang tidak pernah melakukannya. Perbedaan akan terlihat pada raut mukanya yang senantiasa bersih dan bercahaya. Orang-orang tersebut kelak di akhirat wajah mereka bercahaya dan berwibawa sehingga mereka disebut “Ghuran muhajalin”. Sebaliknya orang-orang yang tidak pernah melaksanakan sholat, walaupun wajahnya dihiasi make up yang serba indah, wajahnya akan tetap kusut dan pandangannya menatap masa depan yang gelap. Keindahan yang terlahir karena ibadah akan mewujudkan keindahan lahir batin yang kekal.


Tanggung Jawab Seorang Mukmin



Segenap manusia di muka bumi ini telah diberikan kesempurnaan oleh Allah, telah diberi pancaindera yang lengkap melebihi makhluk-makhluk yang lainnya, terutama akal pikiran dan hati. Oleh sebab itu, kehadiran manusia di alam dunia ini bukan tanpa maksud dan tujuan, tetapi disertai dengan beban tanggung jawab dalam melaksanakan amanah Allah swt.
Semua orang mukmin yang beriman pasti yakin dan mengetahui bahwa Allah menciptakan manusia itu dengan maksud dan tujuan yang disertai dengan tugas dan tanggung jawab. Terdapat dua tugas dan tanggung jawab seorang mukmin yang paling utama, yaitu:
1. Tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah (wakil Allah di muka bumi) yaitu manusia dituntut agar dapat memanfaatkan bumi sebagai sumber daya alam yang harus diolah dan digali demi kepentingan seluruh umat manusia dan juga memanfaatkan manusia sebagai sumber daya insani dalam arti yang lebih luas.
2. Tugas dan tanggung jawab sebagai pengemban amanah dari Allah swt.
Ada beberapa kegiatan yang perlu dipelihara dan diperhatikan dalam kehidupan didunia ini. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain:
1. Saling mengenal dengan sesama manusia, maksudnya ialah saling mengenal yang tidak terhalang karena berbeda keturunan, berbeda pangkat dan kedudukan, berbeda status, berbeda kekayaan dan berbeda bangsa.
2. Bergotong royong saling membantu demi kepentingan umum, maksudnya ialah kita sebagai seorang manusia (makhluk sosial) diharuskan untuk saling bekerja sama dan tolong-menolong dalam mengerjakan kebaikan dan kita dilarang untuk tolong-menolong dalam hal berbuat dosa dan pelanggaran.
3. Memelihara tali persatuan dan persaudaraan, yang dimaksud dengan bersatu disini ialah bersatu dalam agama Allah dengan didasari keikhlasan karena Allah. “Bersatu” ibarat satu tubuh yang jika salah satu anggota tubuh saja yang terkena penyakit maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan sakit.
4. Berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, seorang muslim diwajibkan untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan dan sangat dilarang mengerjakan suatu kejelekan.
5. Bekerja sama dengan semua pihak, seperti halnya para ulama yang mau memanfaatkan dan mengamalkan ilmunya, para pemimpin yang berlaku adil dalam melaksanakan tugasnya, yang kaya mau mengeluarkan zakat dan menafkahkan hartanya, yang miskin benar-benar membantu dan mendoakannya.

Kamis, 08 Januari 2015

Umat Islam Indonesia Harus Memiliki Kepribadian



Sekitar abad ke-7 atau ke-8 yang lalu Islam telah masuk ke Indonesia, bahkan di Sumatera Utara pada abad ke-13 telah berdiri kerajaan Islam yang kuat. Pada abad ke-15 Islam menyebar ke daerah Maluku dan di seluruh Pulau Jawa. Pada abad ke-17 Islam mulai menyebar keseluruh Nusantara, dari Sabang hingga Merauke. Sampai saat ini di Indonesia, umat Islam adalah umat yang mayoritas yaitu sekitar 85% dari seluruh penduduk di Indonesia.
Negara Indonesia yang sekarang berdiri megah ini bukan karena hasil dari penjajahan kolonial Belanda, tetapi merupakan negara yang didirikan oleh semangat dan perjuangan bangsan Indonesia itu sendiri. Berdiri melalui proklamasi dan tekat yang kuat seluruh bangsa yang didasarkan kepada UUD 1945 dan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pancasila).
Pada abad ini, abad ke-20 merupakan era modern. Namun yang disebut dengan modern bukan berarti hidup seperti orang Barat, tetapi memiliki mental yang lebih maju dan memiliki harga diri yang lebih utama. Kaum Muslimin di Indonesia harus terus berusaha meningkatkan diri selaras dengan kemajuan zaman dan tidak terbawa arus serta tetap teguh memperlihatkan diri sebagai seorang muslim.
“Dan Dialah yang menjadikanmu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-An’aam: 165)
Sebagai seorang khalifah (wakil Allah) di muka bumi ini, umat Islam jangan sampai tertinggal oleh orang Barat. Walaupun menuruti tata cara orang Barat, umat Islam harus memiliki jati diri yang lebih baik.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”(Q.S Al-Hujurat: 15)
“Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (Q.S Al-Hujurat: 16)
Dalam kehidupan modern ini, umat Islam tidak perlu menanggalkan agama, bahkan agama itu harus menjadikan seorang muslim menjadi modern, sebagaimana yang telah digambarkan didalam Al-Quran mengenai sifat-sifat seorang mukmin, yaitu:

1.       Bersih diri
2.       Taat beribadah
3.       Banyak bersyukur
4.       Berjuang untuk mencapai kemajuan
5.       Melaksanakan rukuk dan sujud (sholat)
6.       Menegakkan kebenaran
7.       Senantiasa mencegah kemungkaran
8.       Menjadi penegak keadilan

Dengan demikian, umat Islam di Indonesia harus menjadi umat yang taat kepada ajaran agama dan menjadi umat modern yang berkepribadian Indonesia, sehingga umat Islam dapat meningkat dan secara pembangunan nasional dapat dicapai dengan hasil yang membanggakan.

Copyright © Muhammad Ahsan Fuady | Powered by Blogger